You are currently viewing Himas Pendidikan Sejarah USBR mengabdi di Wisata Budaya Baduy
  • Post category:Berita
  • Reading time:3 mins read

Rangkasbitung – Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah (HIMAS) Universitas Setia Budhi Rangkasbitung melaksanakan program Sejarah Mengabdi di kawasan Wisata Budaya Baduy, Kabupaten Lebak, Banten, Sabtu (29/11/2025). Program ini menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi serta bentuk kontribusi mahasiswa dalam pelestarian budaya dan penguatan wawasan sejarah lokal masyarakat adat Baduy.

Kegiatan ini diisi dengan pendampingan wisata edukatif, dokumentasi kebudayaan, penyampaian edukasi sejarah kepada pengunjung, serta kerja bakti lingkungan. Mahasiswa juga berinteraksi secara langsung dengan masyarakat adat Baduy untuk mengenali lebih dalam sistem nilai, pola hidup, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dan tetap dijaga ketat hingga saat ini.

Rektor Universitas Setia Budhi Rangkasbitung, Iman Sampurna, M.Pd, mengapresiasi terlaksananya kegiatan tersebut.
“Kami sangat mengapresiasi langkah HIMAS dalam melaksanakan pengabdian di wilayah Baduy. Aktivitas ini tidak hanya memperluas wawasan mahasiswa, tetapi juga mempertegas komitmen kampus terhadap pelestarian budaya lokal melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ujarnya.

Dekan FKIP USBR, Dr. Berita Membarasi Nehe, M.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan lapangan semacam ini sangat penting untuk memperkaya pengalaman akademik mahasiswa. “Program pengabdian ini memberikan pemahaman empiris tentang dinamika budaya lokal. Kegiatan seperti ini perlu terus diperkuat untuk menumbuhkan karakter mahasiswa yang kritis, beretika, dan memiliki kepedulian budaya,” jelasnya.

Wakil Dekan FKIP USBR, Weny Widyawati Bastaman, M.Pd, menambahkan bahwa kegiatan ini berdampak positif pada pembentukan kepekaan sosial mahasiswa. “Pengabdian di wilayah adat Baduy memberi pengalaman langsung kepada mahasiswa tentang pentingnya menghargai tradisi dan hidup selaras dengan alam. FKIP sangat mendukung kegiatan yang menghubungkan dunia akademik dengan komunitas budaya,” katanya.

Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah FKIP USBR, Usmaedi, M.Pd, menilai kegiatan ini sebagai bentuk pembelajaran sejarah yang kontekstual dan relevan. “Sejarah merupakan disiplin ilmu yang hidup. Mahasiswa perlu menyaksikan langsung bagaimana nilai dan tradisi diwariskan dalam kehidupan sehari-hari. Program ini memperluas perspektif mereka dan menguatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya lokal,” tuturnya.

Sebagai informasi, Sejarah Mengabdi merupakan agenda HIMAS yang berfokus pada pengayaan wawasan sejarah dan kontribusi akademik terhadap komunitas lokal. Kegiatan ini selaras dengan visi USBR dalam mendukung keberlanjutan budaya masyarakat adat di Provinsi Banten.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa terlibat dalam pendampingan wisata edukatif, dokumentasi kebudayaan, edukasi nilai sejarah kepada pengunjung, serta kegiatan kerja bakti lingkungan. Mahasiswa juga berinteraksi langsung dengan masyarakat adat Baduy untuk mempelajari sistem nilai, pola hidup, dan tradisi yang masih dijaga ketat hingga kini.

Rektor Universitas Setia Budhi Rangkasbitung, Iman Sampurna, M.Pd, memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ini. “Saya sangat mengapresiasi kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah. Mengabdi di wilayah Baduy bukan hanya menambah wawasan mahasiswa, tetapi juga menunjukkan komitmen kampus dalam mendukung pelestarian budaya lokal. Kegiatan ini adalah bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus terus kita dorong dan kembangkan.” Ujar Iman Sampurna, M.Pd

Dekan FKIP USBR, Dr. Berita Membarasi Nehe, M.Pd, juga menegaskan pentingnya kegiatan tersebut. Ia menyampaikan, “Program ini memberikan pengalaman yang sangat penting bagi mahasiswa, khususnya dalam memahami dinamika budaya dan sejarah lokal. Saya berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan untuk membangun karakter mahasiswa yang kritis, peduli, dan berbudaya.

Wakil Dekan FKIP USBR, Weny Widyawati Bastaman, M.Pd, menambahkan bahwa kegiatan ini memiliki dampak besar terhadap wawasan mahasiswa. “Pengabdian mahasiswa di wilayah adat Baduy bukan hanya menambah wawasan mereka, tetapi juga menanamkan nilai menghargai tradisi dan hidup harmonis dengan alam. FKIP tentu mendukung penuh kegiatan yang memperkuat relasi antara dunia akademik dan komunitas budaya,” ujarnya Ibu Weny.

Kajur Pendidikan Sejarah FKIP USBR, Usmaedi, M.Pd, menilai kegiatan ini sebagai bentuk pembelajaran sejarah yang sesungguhnya. “Sejarah adalah ilmu yang hidup, dan mahasiswa harus mengalaminya secara langsung. Kegiatan di Baduy ini menjadi sarana yang tepat untuk memperluas perspektif mahasiswa sekaligus memperkenalkan pentingnya pelestarian budaya lokal,” ungkapnya.

Leave a Reply