You are currently viewing Dosen dan Mahasiswa USBR Soroti Nilai Kearifan Lokal dalam Saresehan Budaya SEBA BADUY 2026
  • Post category:Berita
  • Reading time:3 mins read

Lebak – Kegiatan Saresehan Budaya Baduy dalam rangka SEBA BADUY 2026 sukses diselenggarakan sebagai ruang dialog budaya yang sarat makna. Mengusung tema “Menjaga Raga, Menjaga Kata, Menjaga Alam”, kegiatan ini menjadi wadah untuk menggali, memahami, serta memperkuat komitmen pelestarian nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Baduy. Kamis, (23/04/2026).

Masyarakat Baduy yang mendiami wilayah Kanekes, Kabupaten Lebak, dikenal luas sebagai komunitas adat yang tetap teguh memegang tradisi leluhur. Kehidupan mereka yang sederhana, selaras dengan alam, serta menjunjung tinggi nilai adat istiadat menjadi inspirasi dalam menjaga keseimbangan hidup di tengah arus modernisasi.

Dalam sarasehan ini, sejumlah topik penting dibahas secara mendalam, di antaranya pengenalan masyarakat Baduy, nilai-nilai kearifan lokal, sistem kepercayaan dan adat istiadat, tantangan di era modernisasi, hingga upaya konkret dalam pelestarian budaya. Diskusi berlangsung dinamis dengan menghadirkan berbagai perspektif dari para narasumber.

Kegiatan ini dipandu oleh moderator Hendra Permana, dengan menghadirkan narasumber Irfan selaku Ketua Komunitas Pecinta Laut dan Pantai, Yet Bakels dari Belanda yang fokus pada bidang jurnalistik dan penelitian, Niduparas Erlang sebagai penulis, serta Kang Narman yang merupakan pemuda dari Kanekes Baduy.

Melalui forum ini, para peserta mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam. Kearifan lokal masyarakat Baduy dinilai sebagai contoh nyata bagaimana nilai budaya dapat menjadi fondasi dalam menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas.

Dr. Li Puji Siswanto, M.Pd dari LPPM USBR turut memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan ini. Ia menyampaikan, “Sarasehan Budaya Baduy 2026 menjadi kegiatan yang inspiratif dan penuh makna. Kami sangat mengapresiasi semangat mahasiswa serta semua pihak yang terlibat dalam menyukseskan acara ini. Kegiatan ini bukan hanya sekadar diskusi, tapi juga menjadi ruang belajar bersama untuk memahami dan menghargai nilai-nilai budaya lokal. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menjadi bagian dari upaya membentuk generasi muda yang peduli budaya, berkarakter, dan berwawasan luas.”

Sementara itu, Falah, Mahasiswa USBR Penjas angkatan 2024, juga merasakan dampak positif dari kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan, “Kegiatan Sarasehan Budaya Baduy 2026 memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi kami sebagai mahasiswa. Kami merasa kegiatan ini mampu menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya bangsa serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya di tengah arus modernisasi. Sarasehan ini juga menjadi wadah refleksi bagi kami untuk lebih menghargai perbedaan serta memperkuat identitas sebagai generasi muda yang berbudaya. Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan agar semakin banyak mahasiswa yang merasakan manfaatnya.”

Kesimpulan dari kegiatan ini menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab komunitas adat, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Khususnya di wilayah Lebak, Banten, kesadaran bersama diperlukan untuk menjaga keberlanjutan budaya agar tetap hidup dan relevan di masa depan.

Kegiatan SEBA BADUY 2026 ini turut didukung oleh berbagai pihak, di antaranya Citra Maja Raya sebagai sponsor utama, serta Bayah Dome, Wonderful Indonesia, Exciting Banten, Lebak Ruhay, dan Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Banten sebagai pendukung kegiatan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai luhur budaya Baduy dapat terus dikenal luas, dipahami, serta diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Leave a Reply